Monday, November 30, 2015

Keterampilan memberikan penguatan

Dalam kegiatan mengajar di dalam kelas, sangat perlu adanya hubungan timbal balik antara guru dan siswa, maupun siswa dengan siswa, sehingga guru seyogyanya terampil dalam memberikan penguatan kepada siswanya.


Pengertian keterampilan memberikan penguatan


Penguatan adalah respons terhadap suatu tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut.

Pemberian hadiah maupun pemberian hukuman merupakan respon seseorang kepada orang lain karena perbuatannya. Pemberian hadiah merupakan respon positif, sedangkan pemberian hukuman merupakan respon negatif. Namun, kedua respon tersebut memiliki tujuan yang sama yaitu ingin mengubah tingkah laku seseorang dari yang kurang positif menjadi positif, atau yang dari positif menjadi lebih positif lagi.

Pemberian respon dalam proses interaksi edukatif disebut pemberikan penguatan karena hal tersebut akan membantu sekali dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Dengan kata lain, pengubahan tingkah laku siswa (behavior modification) dapat melakukan dengan memberikan penguatan.

Keterampilan memberikan penguatan merupakan keterampilan yang harus di kuasai oleh guru karena penguatan yang di berikan kepada siswa akan membangkitkan semangat murid dalam melakukan kegiatan pembelajaran, semangat siswa yang tinggi akan meningkatkan daya tangkab ilmu sehingga nantinya tujuan yang ingin dicapai oleh guru dapat di raih dengan baik.

Keterampilan memberikan penguatan sangat dekat dengan motivasi, sehingga di awal ini akan di paparkan mengenai motivasi dan mengapa begitu pentingnya motivasi dalam belajar


Tujuan pemberian penguatan

Dalam kehidupan sehari-hari usaha kita sering mendapat penghargaan. Sesudah kita menolong seseorang, biasanya orang yang ditolong mengucapkan terima kasih. Ucapan terima kasih ini merupakan satu penghargaan atas pertolongan tadi. Upah yang diterima, kenaikkan gaji dan kenaikan pangkat adalah penghargaan atas pekerjaan seseorang. Pada umumnya penghargaan mempunyai pengaruh positif dalam kehidupan manusia, yaitu mendorong seseorang memperbaiki tingkah laku dan meningkatkan usahanya.

Demikian pula dalam kegiatan pembelajaran, penghargaan mempunyai arti penting untuk meningkatkan tingkah lakudan penampilan siswa yang baik, diberi penghargaan dalam bentuk senyuman ataupun kata-kata pujian yang merupakan penguatan terhadap tingkah laku dan penampilan siswa. Penguatan adalah respon terhadap suatu tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut. Umpamanya seorang guru memberikan penguatan berupa pengantar terhadap urunan pemikiran yang baik dari seseorang siswa dalam diskusi, dengan pengharapan komentar itu dapat membesarkan hati siswa tersebut, sehingga nanti ia dapat memberikan urunan pikiran yang baik atau lebih baik dalam diskusi-diskusi selanjutnya.

Memberi penguatan dalam kegiatan pembelajaran kelihatannya sederhana saja yaitu tanda persetujuan guru terhadap tingkah laku siswa yang antara lain dinyatakan dalam bentuk kata-kata membenarkan, kata-kata pujian, senyuman, atau anggukan. Walau demikian, banyak guru tidak melaksanakannya. Tidak jarang kita temui guru-guru yang hanya memberikan komentar negatif terhadap tingkah laku siswa yang salah dan jarang sekali bahkan tidak pernah memberikan respon positif terhadap tingkah laku siswa yang baik. Padahal pemberian penguatan dalam kelas akan memdorong siswa meningkatkan usahanya dalam kegiatan pembelajaran dan mengembangkan hasil belajarnya. Oleh karena itu diperlukan pemahaman serta latihan teratur dan terarah agar guru-guru atau calon guru menguasai cara memberikan penguatan dan dapat menerapkannya dalam kegiatan pembelajaran di kelas.

Pemberian penguatan dan penerapannya secara bijaksana dan sistematis berdasarkan cara dan prinsip yang tepat, akan dapat mencapai beberapa tujuan yang merupakan kemungkinan kemanfaatan penggunaan penguatan

Penguatan yang dilakukan guru kepada siswanya mempunyai tujuan sebagai berikut :

a.    Meningkatkan perhatian siswa terhadap pelajaran

Ada kalanya siswa mengalami sedikit penurunan perhatian terhadap pelajaran yang bisa saja diakibatkan oleh waktu dalam proses belajar yang berakibat pada kebosanan. Dengan keterampilan ini maka kebosanan tersebut akan hilang dikarenakan meningkatnya perhatian yang diberikan siswa terhadap belajar.

b.    Membangkitkan dan memelihara motivasi siswa

c.    Memudahkan siswa belajar

d.   Mengontrol dan memodifikasi tingkah laku siswa yang kurang positif serta mendorong munculnya tingkah laku yang produktif

Ketika motivasi dan perhatian dalam belajar mengalami peningkatkan maka secara langsung kegiatan belajar yang terjadi akan meningkat.


Penggunaan keterampilan memberi penguatan di dalam kelas

1.    Prinsip Penggunaan

a.    Kehangatan dan Keantusiasan

     Dalam memberikan penguatan, guru hendaknya menanpakkan kehangatan dan keantusiasan. Sikap dan gaya guru termasuk suara, mimik, dan gerakan badan, akan menunjukkan adanya kehangatan dan keantusiasan dalam memberikan penguatan. Kehangatan dan keantusiasan guru akan menjadikan penguatan yang diberikannya lebih efektif. Sebaliknya, kadang-kadang siswa mendapat kesan bahwa guru tidak ikhlas memberikan penguatan karena tidak disertai kehangatan dan keantusiasan.

b.    Kebermaknaan

Siswa perlu memahami hubungan antara tingkah laku dan penampilannya dengan penguatan yang diberikan kepadanya. Ia harus dapat mengerti dan yakin bahwa ia patut diberi penguatan itu karena sesuai dengan tingkah laku dan penampilannya. Dengan demikian peguatan itu bermakna baginya. Bila guru mengatakan kepada siswa “karanganmu ini sangat baik”’ padahal siswa itu mengetahui dengan pasti bahwa ia terkenal di kelasnya sebagai siswa yang kuranh mampu dalam mengarang, maka pernataan guru itu dapat dianggapnya sebagai sesuatu yang tidak sungguh-sungguh, sehingga tidak mendorongnya mengembangkan dirinya. Penguatan ini tidak bermakna baginya. Sebaiknya terhadap siswa ini guru mengatakan “karanganmu hari ini sudah agak lebih baik daripada yang lalu”, jika memang ada kemajuan dalam karangannya. Dengan cara ini, penguatan yang diberikan itu wajar dan bermakna bagi siswa tersebut.

c.    Menghindari penggunaan respon negatif

  Walaupun teguran dan hukuman tetap digunakan untuk mengontrol dan membina tingkah laku siswa. Tetapi respon negatif yang diberika guru berupa komentar bernada menghina, atau ejekan yang kasar perlu dihindari karena akan mematahkan semangat siswa untuk mengembangkan dirinya. Karena itu, bila siswa tidak dapat memberikan jawaban yang diharapkan, janganlah guru langsung menyalahkannya, tetapi memindahkan giliran menjawab kepaad siswa-siswa lain. Jika pertanyaan itu terjawab oleh siswa lain, siswa yang tidak bisa menjawab tadi dapat menyadari kesalahannya. Dengan demikian, guru menghindari pemberian respon negatif, sambil tetap berusaha dengan cara bijaksana memberi balikan kepada siswa yang membutuhkan bantuan guru.

2.    Cara Penggunaan

a.    Penguatan kepada pribadi tertentu

Penguatan harus jelas ditunjukkan kepada siswa tertentu dengan menyebut namanya sambil memandang kepadanya. Penguatan yang tidak jelas kepada siapa ditujukan akan kurang efektif. Misalnya jika marni menjawab dengan tepat pertanyaan guru, sebaiknya guru memandang marni dan mengatakan, “marni jawabanmu tepat”. Penguatan ini akan kurang bernilai bagi marni bila guru mengucapkan kalimat “tepat jawabanmu” sambil melihat keluar jendela.

b.    Penguatan kepada kelompok siswa

Di atas telah disebutkan, bahwa seharusnya penguatan diberikan kepada siswa tertentu secara perorangan dengan menyebutkan namanya. Walaupun demikian kadang-kadang penguatan dapat pula diberikan kepada sekelompok siswa, umpamanya apabila satu tugas telah diselesaikan dengan baik oleh satu kelas, guru memperbolehkan kelas itu bermain bola volley yang memang menjadi kegemaran mereka. Dapat pula guru menggunakan penguatan verbal saja, dengan mengatakan “bapak senang sekali karena kalian menyelesaikan pekerjaan ini dengan baik”.

c.    Pemberian penguatan dengan segera

Penguatan seharusnya diberikan segera setelah munculnya tingkah laku atau respon siswa yang diharapkan. Penguatan yang ditunda pemberiannya cenderung kurang efeltif.

d.   Variasi dalam penguatan

Bila sebagai penguatan, msks nilainya akan berkurang. Kalau setiap kali guru akan memberikan penguatan, kata yang digunakan adalah “bagus”, maka lama kelamaan, kata “bagus” ini tidak lagi memdorong siswa meningkatkan penampilannya, demikian pula keadaaannya, jika terlalu sering digunakan gerakan yang semacam saja sebagai penguat umpamanya, mengacungkan ibu jari. Sebab itu perlu adanya variasi dalam cara penggunaan maupun dalam jenis penguatan.


    KOMPONEN PEMBERIAN PENGUATAN

1.    Penguatan verbal

Komentar berupa kata-kata pujian, dukungan, pengakuan, dorongan, yang dipergunakan untuk menguatkan tigkah laku dan penampilan siswa, merupakan penguatan verbal. Komentar serupa ini biasanya merupakan balikan atau informasi kepada siswa mengenai penampilannya. Penguatan verbal dapat dinyatakan dalam dua bentuk, yaitu :

a.    Kata-kata seperti bagus, ya, benar, tepat, bagus sekali, betul, dll.

b.    Kalimat seperti pekerjaanmu baik sekali, saya senang dengan pekerjaanmu, pekerjaanmu makin lam makin baik, caramu meberi penjelasan sangat teratur.

2.    Penguatan non-verbal

a.     Penguatan berupa mimik dan gerakan badan

Penguatan yang berupa mimik dan gerakan badan, seperti anggukan, senyuman, acungan jempol atau tepuk tangan, gelengan kepala, wajah cerah, serta sorot mata yang sejuk bersahabat dan biasanya disertai penguatan verbal, misalnya guru mepuk-nepuk pundak disertai ungkapan bapak bangga sama kamu. Tidak selamanya penguatan jenis ini dilakukan bersama-sama penguatan verbal tanpa penguatan verbal penguatan ini tetap akan memberikan nilai penguatan kepada siswa.

b.    Penguatan dengan cara mendekati

Dalam penguatan ini guru mendekati siswa dalam rangka memberikan perhatian dan kesenangannya terhadap pelajaran, tingkah laku, atau penampilan siswa. Misalnya guru berdiri disamping murid, berjalan menuju siswa, duduk dekat seorang atau sekelompok siswa, atau berjalan di sisi siswa. Penguatan ini biasanya memperkuat penguatan verbal hal ini terjadi karena diperkuatnya kehangatan dan keantusiasan oleh guru dengan mendatangi siswa.

c.    Penguatan dengan sentuhan (contact)

Penghargaan kepada siswa dapat dilakukan dengan sentuhan, guru dapat menyatakan persetujuan dan penghargan terhadap usaha dan penampilan siswa dengan cara menepuk-nepuk bahu atau pundak siswa, berjabat tangan, mengangkat tangan siswa yang menang dalam pertandingan. Hal yang harus diperhatikan yaitu penguatan ini harus disesuaikan dengan umur, jenis kelamin serta adat istiadat di tempat tersebut. Contohnya jika di suatu pesantren tidak mungkin untuk memberikan sentuhan kepada jenis kelamin yang berbeda.

d.   Penguatan dengan kegiatan yang menyenangkan siswa

Kegiatan yang menyenangkan siswa dapat bermakna menjadi suatu penguat manakala siswa yang menerimanya menyikapi sebagai sebuah kehormatan dan atau kepercayaan yang di berikan kepadanya. Dengan demikian, ia tidak dipandang sebagai sebuah beban baru bagi siswa melainkan sebagai sebuah perhatian yang diberikan kepadanya.

Terhadap siswa yang memiliki prestasi di bidang musik diberi kepercayaan untuk memimpin paduan suara di sekolahnya, atau siswa yang memiliki karya ilmiah yang baik diberi kesempatan untuk memamerkan hasil karyanya di ruang guru.

e.     Penguatan dengan simbol atau benda

Simbol tampaknya mempunyai arti penting di hadapan para siswa. Simbol dapat berupa bintang, lencana, piagam, tanda penghargaan. Benda bisa berupa alat-alat tulis, tas, bahkan baju seragam sekolah. Benda-benda tersebut tidak mesti mahal namun di usahakan memiliki arti simbolis yang dalam, bahkan komentar secara tertulis atas hasil pekerjaan siswa juga dapat berfungsi sebagai penguatan.

Penguatan ini sebaliknya tidak terlampau sering digunakan, terutama yang berwujud benda, agar maknanya tidak hilang atau agar tidak menjadi kebiasaan bahwa siswa mengharapakan imbalan dari penampilannya.

f.     Penguatan tidak penuh

Pada penguatan ini siswa yang salah tidak langsung di salahkan secara kasar tetapi dengan memberikan penguatan tetapi tidak penuh, misalnya “yang kamu sudah kerjakan sudah sesuai dengan caranya tetapi sebaiknya kamu lebih teliti terhadap nilai sin di kuadaran 3”. Kemudian, diminta siswa lain untuk menyempurnakan atau menambahkan sehingga siswa tadi mengetahui bahwa jawabannya tidak seluruhnya benar, namun juga tidak salah.


Semoga materi ini bermanfaat amin 

No comments:
Write Comments